• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Entrepreneurship : Membangun Karakter Mental Kewirausahaan Pemuda
Membangun Karakter Mental Kewirausahaan Pemuda PDF Cetak E-mail
Entrepreneurship
Rabu, 19 Oktober 2011 13:12

Membangun Karakter Mental Kewirausahaan Pemuda (Menyambut Munas XIV HIPMI di Makassar)
Bahrul ulum
(Direktur Makassarpreneur/Koordinator Lajnah Khusus Pengusaha HTI Sulsel)

KEWIRAUSAAN atau “entrepreneurship” makin dirasakan urgensinya saat ini sebagai “the backbone of economy”, atau tulang punggung perekonomian suatu bangsa. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan suatu negara adalah para wirausahawan. Tanpa adanya mental kewirausahaan pada diri seseorang atau suatu bangsa, maka segala potensi, sumber energi, komoditi dan mineral yang melimpah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.

Di Indonesia, jumlah pelaku wirausaha saat ini masih relatif minim. Dari populasi yang mencapai sekitar 240 juta penduduk, porsi pelaku wirausaha hanya sekitar 0,2%, sedangkan jumlah wirausaha yang ideal untuk menggerakkan perekonomian suatu negara itu minimal 2% dari total jumlah penduduk. Sementara itu, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi fakta tak terbantahkan yang masih melingkupi sebagian besar rakyat Indonesia.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 menunjukkan jumlah pemuda Indonesia yang masih menganggur mencapai 17 persen dari 70 juta jiwa, atau sekitar 12 juta pemuda. Sebagian besar dari mereka juga hidup dalam kondisi miskin dan berpendidikan rendah. Sementara, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hingga Februari 2011, jumlah penganggur di Indonesia mencapai 8,12 juta dengan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2011 mencapai 6,8 persen dari total angkatan kerja.

Dengan data di atas, kebutuhan akan tersedianya sejumlah wirausaha baru yang handal, tangguh serta ungggul menjadi kebutuhan yang perlu disiapkan melalui perencanaan yang jelas dan langkah-langkah yang konkrit serta konsisten dalam penyelenggaraannya.

Saatnya Wirausahawan Muda

Dalam isu kewirausahaan golongan pemuda perlu memperoleh perhatian khusus. Selain sebagai nafas zaman, kaum mudalah yang senatiasa menjadi incaran pemasaran sebagai segmen pasar potensial. Posisi pemuda juga strategis dan khas secara budaya dan kondisi fisik serta emosional. Para pemudalah juga yang nanti mengalami persoalan besar sebagai pembayar hutang bangsa, menghadapi persaingan global, serta paradigma kehidupan yang baru.

Sayangnya, pilihan menjadi wirausaha ini belum begitu banyak tumbuh di kalangan generasi muda. Membludaknya pendaftar CPNS, mental menjadi selebritis dadakan atau politisi karbitan menunjukkan masih rendahnya karakter mental kewirausahaan pemuda kita. Tampak masih sangat kuat mental ambtenar, yaitu mengharapkan output pendidikan sebagai pekerja dalam diri generasi muda karena menganggap pegawai negeri memiliki status sosial yang cukup tinggi dan disegani.

Membangun karakter mental kewirausahaan pemuda memang tidaklah mudah. Selain kesadaran pemuda, dukungan keluarga, lingkungan yang kondusif serta peran pemerintah dan pihak lainnya sangat dibutuhkan. Hal ini karena entrepreneurship sesungguhnya tak sebatas profesi, namun lebih berkaitan dengan mindset dan mental seseorang yang dibutuhkan di beragam bidang kehidupan.

Entrepreneurship membutuhkan kemampuan mengolah kesempatan, tantangan, dan resiko dalam tindakan nyata. Entrepreneurship butuh proses yang akan lahir seiring dengan pengalaman, eksperimen, informasi berbagai sumber, dan tidak sebatas pada pendidikan di sekolah. Seorang entrepreneurship membutuhkan mental dan semangat yang tinggi karena dihadapkan pada ketidakpastian. Mereka yang berhasil sebagai entrepreneurship adalah mereka yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi kemungkinan dan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.

Entrepreneurship merupakan nilai dari suatu generasi. Tanpa entrepreneur maka suatu generasi akan kehilangan esensinya. Karena itu saatnya kita melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda melalui pengembangan mental kewirausahaan. Alumni perguruan tinggi harus didorong supaya berinisiatif menciptakan lapangan kerja. Demikian juga diperlukan dorongan lingkungan keluarga dimana para orang tua berani untuk mengarahkan anaknya meninggalkan “zona nyaman” dan berani untuk berkarya, berkreasi dan menciptakan nilai baru yang bermanfaat.

Secara spesifik, tumbuhnya semangat dan kualitas kewirausahaan ini sangat bergantung pula pada lingkungan makro. Pemerintah dan masyarakat berperan menciptakan iklim investasi yang kondusif, peraturan persaingan usaha yang sehat, penegakan hukum yang konsisten dan tidak pandang bulu, serta modal sosial yang kuat. Bila tidak, walaupun melahirkan banyak pengusaha maka yang lahir sesungguhnya adalah “wirausahawan semu” yang muncul tak lebih karena mental korup, dekat dengan kekuasaan atau karena nepotisme dan kolusi. Bangsa ini membutuhkan generasi baru wirausahawan yang ungggul (entrepreneurial excellence) yang memiliki karakter mental kewirausahaan seperti inovatif dan kreatif namun juga tangguh dan peduli.

Spirit Islam untuk Kewirausahaan


Nilai-nilai kewirausahaan tercantum dalam Al-Qur’an, demikian juga dalam teladan Nabi serta sahabat. Tidak kurang terdapat 41 dari 114 surah dalam Al-Qur’an yang menyinggung kata rezeki, termasuk amalan-amalan lainya seperti tijarah, barakah, infak, shadaqah,sharikah, bahkan riba yang memberikan spirit kewirausahaan untuk meraih keuntungan, kemuliaan dan keberkahan.

Pada saat yang lain, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, ”Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90% pintu rezeki.” (HR Ahmad bin Hambal). Nabi juga pernah bersabda tentang hal yang sama, ”Sesungguhnya, sebaik-sebaik mata pencarian adalah seorang pedagang.” (HR Baihaqy). Walhasil, being entrepreneur dalam Islam merupakan kewajiban yang menjadi ibadah bagi pelakunya. Bahkan, bekerja atau berwirausaha menjadi salah satu ciri orang yang beriman.

Tidaklah mengherankan apabila Nabi Muhammad SAW dan sebagian besar sahabat adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara. Tidak berlebihan karenanya bila dikatakan bahwa etos entrepreneurship sudah melekat dan inheren dengan diri umat Islam. Saatnya kini umat Islam dan khususnya pemuda untuk bahu membahu dan bersinergi mengembangkan dan membangun karakter mental kewirausahaan masing-masing. Diharapkan motivasi ini lahir tidak sekedar motivasi materi belaka tapi didrong pula dengan kesadaran ruhiyah bahwa berwirausaha adalah sangat mulia dan merupakan ibadah.

Optimalisasi Peran HIPMI

Organisasi HIPMI dengan motto “organisasi Pengusaha-Pejuang dan Pejuang-Pengusaha” berperan penting sebagai organisasi kader dalam membangun karakter mental kewirausahaan pemuda. Dengan sandaran motto di atas pula khalayak menunggu aksi nyata dan peran sosial HIPMI dalam membangun dunia usaha bagi anggota dan masyarakat secara luas.

Kini masih banyak pemuda terdidik dari organisasi kepemudaan yang lebih berorientasi kepada pergerakan politik dan kekuasaan karena mereka cenderung memilih cara instan untuk menjadi terkenal dan politisi andal, tetapi dari aspek ekonomi mereka jauh tertinggal. Jadi, tahap awal yang harus dilakukan dalam memberdayakan pemuda adalah membangun jiwa pemuda yang mandiri dan menanamkan semangat hidup berwirausaha agar kemandirian mudah dibangun

Gelaran Munas XIV HIPMI di Makassar tanggal 17-20 Oktober 2011 point pentingnya bukan sekedar pergantian ketua umum, namun yang paling penting adalah merumuskan kinerja HIPMI. Organisasi HIPMI ke depan diharapkan merumuskan program kerja terukur dan sistematis dalam melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda baru dengan sinergi berbagai pihak. Utamanya serangkaian program pengembangan spirit kewirausahaan pemuda yang diharapkan memotivasi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan entrepreneurialnya. Menjadikan wirausaha sebagai profesi terhormat, idola dan menjadikan segmen pengusaha muda eksis di tengah-tengah masyarakat dengan karakter unggulnya, bukan wirausahawan  semu.

Selamat atas Munas XIV HIPMI di Makassar, semoga dapat menjadi organisasi Pengusaha-Pejuang dan Pejuang-Pengusaha, bukan sekedar organisasi hura-hura dan elitis. Semoga kiprah HIPMI makin tampak utamanya dalam membangun dunia wirausaha kalangan muda dan berkontribusi secara nyata kepada masyarakat luas. (*)

 

Penulis : Ridwan Putra
Editor : Ridwan Putra

 

Comments  

 
0 #3 aroel 2011-10-26 13:21
asw.dengan senang hati kalau kami bisa share,dan bersama-sama mengembangkan spirit kewirausahaan. kami tunggu partsipasinya dalam kegiatan-kegiatan Makassarpreneur .silahkan kontak kami di 081342647080,trims
Quote
 
 
0 #2 YAQUB 2011-10-20 03:19
ada keinginan besar jd wirausahawan muda.. tp kami kurang ilmu dan pengalaman.. mohon bantuannya
Quote
 
 
0 #1 YAQUB 2011-10-20 03:17
ya kami ini mau menjadi wirausahawan muda tp minim ilmu dan jaringan ,, mohon bantuannya,
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Makassarpreneur Rapat Akhir Tahun

Lembaga pengembangan bisnis (LPB) Makassarpreneur menggelar rapat akhir  tahun sebagai ajang evaluasi kerja tahun 2013 sekaligus menyusun program kerja lembaga di tahun 2014. Rapat akhir tahun yang diikuti 30 orang pengurus dan staf ahli ini digelar di Hotel Al Badar Makassar, Sabtu, 7 Desember 2013, dipandu langsung Direktur Makassarpreneur.

Bagi LPB Makassarpreneur, rapat akhir tahun ini memiliki makna penting sebagai forum untuk rancang bangun, penataan mekanisme serta penetapan target-target lembaga yang visioner, sinergis, berkinerja dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, Makassarpreneur diharapkan dapat berkiprah baik secara lokal maupun nasional sebagai lembaga terdepan dan disegani dalam isu pemberdayaan potensi pemuda, pengembangan spirit entrepreneurship dan pembinaan umkm.
Read more text

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini83
mod_vvisit_counterMinggu ini83
mod_vvisit_counterBulan ini83
mod_vvisit_counterSemua hari373751

We have: 51 guests online
IP Anda: 54.82.49.200
 , 
Today: Jul 23, 2014